Batara Semar atau Batara Ismaya, yang hidup di alam Sunyaruri, sering turun ke dunia dan manitis di dalam diri Janggan Semarasanta, seorang abdi dari Pertapaan Saptaarga. Mengingat bahwa bersatunya antara Batara Ismaya dan Janggan Semarasanta yang kemudian populer dengan nama Semar merupakan penyelenggaraan Illahi, maka munculnya tokoh Semar diterjemahkan sebagai kehadiran Sang Illahi dlam kehidupan nyata dengan cara yang tersamar, penuh misteri.
Dari bentuknya saja, tokoh ini tidak mudah diterka. Wajahnya adalah wajah laki-laki. Namun badannya serba bulat, payudara montok, seperti layaknya wanita. Rambut putih dan kerut wajahnya menunjukan bahwa ia telah berusia lanjut, namun rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak. Bibirnya berkulum senyum, namun mata selalu mengeluarkan air mata (ndrejes). Ia menggunakan kain sarung bermotif kawung, memakai sabuk tampar, seperti layaknya pakaian yang digunakan oleh kebanyakan abdi. Namun bukankah ia adalah Batara Ismaya atau Batara Semar, seorang Dewa anak Sang Hyang Wisesa, pencipta alam semesta.
Dengan penggambaran bentuk yang demikian, dimaksudkan bahwa Semar selain sosok yang sarat misteri, ia juga merupakan simbol kesempurnaan hidup. Di dalam Semar tersimpan karakter wanita, karakter laki-laki, karakter anak-anak, karakter orang dewasa atau orang tua, ekspresi gembira dan ekspresi sedih bercampur menjadi satu. Kesempurnaan tokoh Semar semakin lengkap, ditambah dengan jimat Mustika Manik Astagina pemberian Sang Hyang Wasesa, yang disimpan di kuncungnya. Jimat tersebut mempunyai delapan daya yaitu; terhindar dari lapar, ngantuk, asmara, sedih, capek, sakit, panas dan dingin. Delapan macam kasiat Mustika Manik Astagina tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa, walaupun Semar hidup di alam kodrat, ia berada di atas kodrat. Ia adalah simbol misteri kehidupan, dan sekaligus kehidupan itu sendiri.
Jika dipahami bahwa hidup merupakan anugerah dari Sang Maha Hidup, maka Semar merupakan anugerah Sang Maha Hidup yang hidup dalam kehidupan nyata. Tokoh yang diikuti Semar adalah gambaran riil, bahwa sang tokoh tersebut senantiasa menjaga, mencintai dan menghidupi hidup itu sendiri, hidup yang berasal dari Sang Maha Hidup. Jika hidup itu dijaga, dipelihara dan dicintai maka hipup tersebut akan berkembang mencapai puncak dan menyatu kepada Sang Sumber Hidup, manunggaling kawula lan Gusti. Pada upaya bersatunya antara kawula dan Gusti inilah, Semar menjadi penting. Karena berdasarkan makna yang disimbolkan dan terkandung dalam tokoh Semar, maka hanya melalui Semar, bersama Semar dan di dalam Semar, orang akan mampu mengembangkan hidupnya hingga mencapai kesempurnaan dan menyatu dengan Tuhannya.
Selain sebagai simbol sebuah proses kehidupan yang akhirnya dapat membawa kehidupan seseorang kembali dan bersatu kepada Sang Sumber Hidup, Semar menjadi tanda sebuah rahmat Illahi (wahyu) kepada titahnya, Ini disimbolkan dengan kepanjangan nama dari Semar, yaitu Badranaya. Badra artinya Rembulan, atau keberuntungan yang baik sekali. Sedangkan Naya adalah perilaku kebijaksanaan. Semar Badranaya mengandung makna, di dalam perilaku kebijaksanaan, tersimpan sebuah keberuntungan yang baik sekali, bagai orang kejatuhan rembulan atau mendapatkan wahyu.
Dalam lakon wayang, yang bercerita tentang Wahyu, tokoh Semar Badranaya menjadi rebutan para raja, karena dapat dipastikan, bahwa dengan memiliki Semar Badranaya maka wahyu akan berada dipihaknya.
Menjadi menarik bahwa ada dua sudut pandang yang berbeda, ketika para satria raja maupun pendeta memperebutkan Semar Badranaya dalam usahanya mendapatkan wahyu. Sudut pandang pertama, mendudukkan Semar Badranaya sebagai sarana phisik untuk sebuah target. Mereka meyakini bahwa dengan memboyong Semar, wahyu akan mengikutnya sehingga dengan sendirinya sang wahyu didapatkan. Sudut pandang ini kebanyakan dilakukan oleh kelompok Kurawa atau tokoh-tokoh dari sabrang, atau juga tokoh lain yang hanya menginkan jalan pintas, mencari enaknya sendiri. Yang penting mendapatkan wahyu, tanpa harus menjalani laku yang rumit dan berat.
Sudut pandang ke dua adalah mereka yang mendudukan Semar Badranaya sebagai sarana batin untuk sebuah proses. Konsekwensinya bahwa mereka mau membuka hati agar Semar Badranaya masuk, tinggal dan menyertai kehidupannya, sehingga dapat berproses bersama meraih Wahyu. Penganut pandangan ini adalah kelompok dari keturunan Saptaarga. Dari ke dua sudut pandang itulah dibangun konflik, dalam usahanya memperebutkan turunnya wahyu. Dan tentu saja berakhir dengan kemenangan kelompok Saptaarga.
Mengapa wahyu selalu jatuh kepada keturunan Saptaarga? Karena keturunan Saptaarga selalu mengajarkan perilaku kebijaksannan, semenjak Resi Manumanasa hingga sampai Harjuna. Di kalangan Saptaarga ada warisan tradisi sepiritual yang kuat dan konsisten dalam hidupnya. Tradisi tersebut antara lain; sikap rendah hati, suka menolong sesama, tidak serakah, melakukan tapa, mengurangi makan dan tidur dan laku lainnya. Karena tradisi-tradisi itulah, maka keturunan Saptaarga kuat diemong oleh Semar Badranaya.
Masuknya Semar Badranaya dalam setiap kehidupan, menggambarkan masuknya Sang Penyelenggara Illahi di dalam hidup itu sendiri. Maka sudah sepantasnya, anugerah Ilahi yang berujud wahyu akan bersemayam di dalamnya. Karena apa yang tersembunyi di balik tokoh Semar adalah Wahyu. Wahyu yang disembunyikan bagi orang tamak dan dibuka bagi orang yang hatinya merunduk dan melakukan perilaku kebijaksanaan. Seperti yang dilakukan keturunan Saptaarga
sumber : http://www.tembi.org
Selasa, 27 Oktober 2009
Berharap Mentri seperti Punakawan
Dalam perkembangan selanjutnya, hadirnya Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga tidak sendirian. Ia ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk, Bagong. Ke empat abdi tersebut dinamakan Panakawan. Dapat disaksikan, hampir pada setiap pegelaran wayang kulit purwa, akan muncul seorang ksatria keturunan Saptaarga diikuti oleh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Cerita apa pun yang dipagelarkan, ke lima tokoh ini menduduki posisi penting. Kisah Mereka diawali mulai dari sebuah pertapaan Saptaarga atau pertapaan lainnya. Setelah mendapat berbagai macam ilmu dan nasihat-nasihat dari Sang Begawan, mereka turun gunung untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh, dengan melakukan tapa ngrame. (menolong tanpa pamrih).
Dikisahkan, perjalanan sang Ksatria dan ke empat abdinya memasuki hutan. Ini menggambarkan bahwa sang ksatria mulai memasuki medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar, banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika lengah dapat mengacam jiwanya. Namun pada akhirnya Ksatria, Semar, Gareng, Petruk, Bagong berhasil memetik kemenangan dengan mengalahkan kawanan Raksasa, sehingga berhasil keluar hutan dengan selamat. Di luar hutan, rintangan masih menghadang, bahaya senantiasa mengancam. Berkat Semar dan anak-anaknya, sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.
Mengapa peranan Semar dan anak-anaknya sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan? Sudah dipaparkan pada dua tulisan sebelumnya, bahwa Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia. Untuk lebih memperjelas peranan Semar, maka tokoh Semar dilengkapi dengan tiga tokoh lainnya. Ke empat panakawan tersebut merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih. Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta. Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa kewaspadaan, tangan cekot adalah rasa ketelitian dan kaki pincang adalah rasa kehati-hatian. Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Sedangkan karya disimbolkan Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya selalu bersedia bekerja keras. Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karya berada dalam satu wilayah yang bernama pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria. Gambaran manusia ideal adalah merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya dapat menempati fungsinya masing-masing dengan harmonis, untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian menjadi jelas bahwa antara Ksatria dan panakawan mempunyai hubungan signifikan. Tokoh ksatria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus (rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).
Simbolisasi ksatria dan empat abdinya, serupa dengan 'ngelmu' sedulur papat lima pancer. Sedulur papat adalah panakawan, lima pancer adalah ksatriya. Posisi pancer berada ditengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil). Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia (sangkan paraning dumadi). Awal mula manusia diciptakan di awali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (bayi, dalam konteks ini adalah pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan Kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin, untuk melindungi si bayi, agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah. Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil.
Ngelmu sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa, manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Pancer adalah suksma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya suksma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan.
Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan, digambarkan dengan seorang sais mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah melambangkan energi, semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani dan kuda putih melambangkan keheningan, kesucian. Sebagai sais, tentunya tidak mudah mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerjasama dengan ke empat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir. Sang Sangkan Paraning Dumadi.
sumber : http://www.tembi.org
Dikisahkan, perjalanan sang Ksatria dan ke empat abdinya memasuki hutan. Ini menggambarkan bahwa sang ksatria mulai memasuki medan kehidupan yang belum pernah dikenal, gelap, penuh semak belukar, banyak binatang buas, makhluk jahat yang siap menghadangnya, bahkan jika lengah dapat mengacam jiwanya. Namun pada akhirnya Ksatria, Semar, Gareng, Petruk, Bagong berhasil memetik kemenangan dengan mengalahkan kawanan Raksasa, sehingga berhasil keluar hutan dengan selamat. Di luar hutan, rintangan masih menghadang, bahaya senantiasa mengancam. Berkat Semar dan anak-anaknya, sang Ksatria dapat menyingkirkan segala penghalang dan berhasil menyelesaikan tugas hidupnya dengan selamat.
Mengapa peranan Semar dan anak-anaknya sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan? Sudah dipaparkan pada dua tulisan sebelumnya, bahwa Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia. Untuk lebih memperjelas peranan Semar, maka tokoh Semar dilengkapi dengan tiga tokoh lainnya. Ke empat panakawan tersebut merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Semar mempunyai ciri menonjol yaitu kuncung putih. Kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta. Gareng mempunyai ciri yang menonjol yaitu bermata kero, bertangan cekot dan berkaki pincang. Ke tiga cacat fisik tersebut menyimbolkan rasa. Mata kero, adalah rasa kewaspadaan, tangan cekot adalah rasa ketelitian dan kaki pincang adalah rasa kehati-hatian. Petruk adalah simbol dari kehendak, keinginan, karsa yang digambarkan dalam kedua tangannya. Jika digerakkan, kedua tangan tersebut bagaikan kedua orang yang bekerjasama dengan baik. Tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih. Sedangkan karya disimbolkan Bagong dengan dua tangan yang kelima jarinya terbuka lebar, artinya selalu bersedia bekerja keras. Cipta, rasa, karsa dan karya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Cipta, rasa, karsa dan karya berada dalam satu wilayah yang bernama pribadi atau jati diri manusia, disimbolkan tokoh Ksatria. Gambaran manusia ideal adalah merupakan gambaran pribadi manusia yang utuh, dimana cipta, rasa, karsa dan karya dapat menempati fungsinya masing-masing dengan harmonis, untuk kemudian berjalan seiring menuju cita-cita yang luhur. Dengan demikian menjadi jelas bahwa antara Ksatria dan panakawan mempunyai hubungan signifikan. Tokoh ksatria akan berhasil dalam hidupnya dan mencapai cita-cita ideal jika didasari sebuah pikiran jernih (cipta), hati tulus (rasa), kehendak, tekad bulat (karsa) dan mau bekerja keras (karya).
Simbolisasi ksatria dan empat abdinya, serupa dengan 'ngelmu' sedulur papat lima pancer. Sedulur papat adalah panakawan, lima pancer adalah ksatriya. Posisi pancer berada ditengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil). Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia (sangkan paraning dumadi). Awal mula manusia diciptakan di awali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (bayi, dalam konteks ini adalah pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan Kakang mbarep. Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin, untuk melindungi si bayi, agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah. Setelah bayi lahir akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil.
Ngelmu sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa, manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Pancer adalah suksma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya suksma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan.
Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan, digambarkan dengan seorang sais mengendalikan sebuah kereta, ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah melambangkan energi, semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani dan kuda putih melambangkan keheningan, kesucian. Sebagai sais, tentunya tidak mudah mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerjasama dengan ke empat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir. Sang Sangkan Paraning Dumadi.
sumber : http://www.tembi.org
Kamis, 03 September 2009
Indonesia butuh restorasi
Seperti apa yang terjadi di Jepang pada masa lalu, setelah terpuruk dengan hancurnya kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang mampu me-restorasi dirinya yang sekarang terkenal dengan sebutan Restorasi Meiji. Saya pikir, Indonesia saat ini juga sangat butuh restorasi. Indonesia seharusnya berani melakukan langkah-langkah tegas demi kemajuan. Hukum-hukum yang dulu hanya berlaku ketika ada petugas, harus bisa ditanamkan dalam diri masing-masing. Jika tahun 1998 ada reformasi yang salah kaprah, kini saatnya merestorasi semua yang ada di Indonesia. Mulai dari warga, pendidikan, kemauan, dan yang penting adalah sikap atau tindakan. Indonesia harus berani untuk mengurangi impor bahan-bahan yang sudah ada di Indonesia sendiri, misalnya beras. Bukankah kita negara agraris? Dengan mulai mencintai produk-produk kita, bukan tidak mungkin kalau Indonesia akan bangkit dalam lima tahun ke depan. Disamping berani mengurangi impor, diharapkan juga berani mengembangkan semua potensi di dalam negeri. Saya ambil contoh coklat. Indonesia mempunyai potensi perkebunan coklat yang cukup baik. Namun itu pun tak ada yang mau mengelolanya dengan alasan tak ada modal yang cukup untuk itu. Betapa kecilnya alasan itu untuk hasil yang sudah bisa kita tebak. Semua pasti berawal dari nol, tidak ada usaha yang langsung menjadi besar, tidak ada domba yang bisa langsung diambil bulunya. Semua pasti membutuhkan proses. Sekarang yang menentukan semua itu adalah bagaimana sikap dan tindakan kita untuk memanfaatkan semua sumber daya dengan minimal dan mendapatkan hasil yang maksimal. Semua tergantung pada kemauan dan kesadaran kita sebagai warga.
Apa saja yang harus direstorasi di Indonesia? Jawabnya adalah banyak. Yang pertama adalah hukum dan peraturan. Dengan peraturan, hidup menjadi disiplin. Namun tahukah anda bagaimana peraturan di Indonesia? Masyarakat menganggap bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar, bukan untuk ditaati. Dengan peraturan yang dibuat kita dipaksa untuk mengikutinya, dan itu adalah awal yang baik untuk membentuk karakter manusia. Dari situlah muncul karakter disiplin dan kesadaran yang tinggi di masyarakat. Setelah tertanam di dalam jiwa masyarakat, secara tidak langsung tanpa peraturan pun tidak akan menjadi masalah karena sudah tercipta kesadaran yang cukup tinggi. Dengan merestorasi peraturan dan hukum, otomatis akan merestorasi kepribadian masyarakat.
Selanjutnya adalah menggali potensi sumber daya dalam negeri tanpa harus merusaknya. Saya awali dengan keadaan Sumber Daya Hutan. Banyaknya illegal loging di Indonesia memperlihatkan betapa rapuhnya mental manusia Indonesia. Memang benar, hutan menjanjikan keuntungan financial yang cukup besar bagi negara dan masyarakat. Namun juga bisa menjanjikan kehancuran dan bencana jika tidak ada gerakan tanam setelah tebang. Contoh lain adalah perkebunan coklat yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dan masih banyak lagi sumber daya Indonesia yang belum dimanfaatkan.
Mengapa masyarakat Indonesia seperti itu? Dengan kesadaran yang hanya mengerti uang dan jalan pintas lah yang membuat mereka seperti itu. Kemauan dan etos kerja yang sangat lemah selalu ditunjukkan ketika ada aksi mogok kerja. Saya akan me-review bagaimana keadaan masyarakat pada saat penjajahan. Pada zaman penjajahan Belanda, masyarakat yang bekerja sebagai buruh atau pegawai pabrik di bawah Belanda sebenarnya sudah memiliki bekal kemampuan yang cukup tinggi. Mereka sangan rajin dan patuh kepada majikan atau atasan. Karena jika tidak patuh, pasti akan mendapat siksa dari Belanda. Setelah merdeka, ternyata bukan hanya bangsa ini yang merdeka, namun semua sikap disiplin mereka juga merdeka. Para pegawai yang biasanya bekerja dengan penuh semangat dan disiplin tinggi merasa bebas dan semena-mena dengan tugasnya. Itu karena sudah tidak ada lagi yang menekan mereka dengan peraturan-peraturan Belanda. Begitulah gambaran masyarakat kita saat itu. Setelah Indonesia merdeka seutuhnya, sikap di atas sudah tidak lagi tersisa dalam benak kita.
Apakah seharusnya Indonesia kembali dijajah? Kita semua pasti menjawab tidak mau. Namun faktanya kita sudah terjajah saat ini. Dimana para asing mengeksplorasi sumber daya alam yang kita miliki secara besar-besaran. Itu semua karena kita hanya melihat uangnya saja tanpa berpikir bagaimana keadaan daerah itu setelah di eksplorasi. Setelah perjanjian ditanda tangani, tidak ada yang bisa kita lakukan selama kontrak masih berjalan.
Apakah anda sekalian tidak merasa miris melihat negara kita seperti ini? Jika jawaban anda semua adalah iya, maka mulai sekarang belajarlah untuk merubah semua sikap-sikap egois anda yang bisa membuat negara kita semakin mundur. Perubahan besar dimulai dari sebuah perubahan kecil, dan perubahan Indonesia dimulai dari perubahan masyarakat di dalamnya.
Apa saja yang harus direstorasi di Indonesia? Jawabnya adalah banyak. Yang pertama adalah hukum dan peraturan. Dengan peraturan, hidup menjadi disiplin. Namun tahukah anda bagaimana peraturan di Indonesia? Masyarakat menganggap bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar, bukan untuk ditaati. Dengan peraturan yang dibuat kita dipaksa untuk mengikutinya, dan itu adalah awal yang baik untuk membentuk karakter manusia. Dari situlah muncul karakter disiplin dan kesadaran yang tinggi di masyarakat. Setelah tertanam di dalam jiwa masyarakat, secara tidak langsung tanpa peraturan pun tidak akan menjadi masalah karena sudah tercipta kesadaran yang cukup tinggi. Dengan merestorasi peraturan dan hukum, otomatis akan merestorasi kepribadian masyarakat.
Selanjutnya adalah menggali potensi sumber daya dalam negeri tanpa harus merusaknya. Saya awali dengan keadaan Sumber Daya Hutan. Banyaknya illegal loging di Indonesia memperlihatkan betapa rapuhnya mental manusia Indonesia. Memang benar, hutan menjanjikan keuntungan financial yang cukup besar bagi negara dan masyarakat. Namun juga bisa menjanjikan kehancuran dan bencana jika tidak ada gerakan tanam setelah tebang. Contoh lain adalah perkebunan coklat yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dan masih banyak lagi sumber daya Indonesia yang belum dimanfaatkan.
Mengapa masyarakat Indonesia seperti itu? Dengan kesadaran yang hanya mengerti uang dan jalan pintas lah yang membuat mereka seperti itu. Kemauan dan etos kerja yang sangat lemah selalu ditunjukkan ketika ada aksi mogok kerja. Saya akan me-review bagaimana keadaan masyarakat pada saat penjajahan. Pada zaman penjajahan Belanda, masyarakat yang bekerja sebagai buruh atau pegawai pabrik di bawah Belanda sebenarnya sudah memiliki bekal kemampuan yang cukup tinggi. Mereka sangan rajin dan patuh kepada majikan atau atasan. Karena jika tidak patuh, pasti akan mendapat siksa dari Belanda. Setelah merdeka, ternyata bukan hanya bangsa ini yang merdeka, namun semua sikap disiplin mereka juga merdeka. Para pegawai yang biasanya bekerja dengan penuh semangat dan disiplin tinggi merasa bebas dan semena-mena dengan tugasnya. Itu karena sudah tidak ada lagi yang menekan mereka dengan peraturan-peraturan Belanda. Begitulah gambaran masyarakat kita saat itu. Setelah Indonesia merdeka seutuhnya, sikap di atas sudah tidak lagi tersisa dalam benak kita.
Apakah seharusnya Indonesia kembali dijajah? Kita semua pasti menjawab tidak mau. Namun faktanya kita sudah terjajah saat ini. Dimana para asing mengeksplorasi sumber daya alam yang kita miliki secara besar-besaran. Itu semua karena kita hanya melihat uangnya saja tanpa berpikir bagaimana keadaan daerah itu setelah di eksplorasi. Setelah perjanjian ditanda tangani, tidak ada yang bisa kita lakukan selama kontrak masih berjalan.
Apakah anda sekalian tidak merasa miris melihat negara kita seperti ini? Jika jawaban anda semua adalah iya, maka mulai sekarang belajarlah untuk merubah semua sikap-sikap egois anda yang bisa membuat negara kita semakin mundur. Perubahan besar dimulai dari sebuah perubahan kecil, dan perubahan Indonesia dimulai dari perubahan masyarakat di dalamnya.
Langganan:
Postingan (Atom)