Seperti apa yang terjadi di Jepang pada masa lalu, setelah terpuruk dengan hancurnya kota Hiroshima dan Nagasaki, Jepang mampu me-restorasi dirinya yang sekarang terkenal dengan sebutan Restorasi Meiji. Saya pikir, Indonesia saat ini juga sangat butuh restorasi. Indonesia seharusnya berani melakukan langkah-langkah tegas demi kemajuan. Hukum-hukum yang dulu hanya berlaku ketika ada petugas, harus bisa ditanamkan dalam diri masing-masing. Jika tahun 1998 ada reformasi yang salah kaprah, kini saatnya merestorasi semua yang ada di Indonesia. Mulai dari warga, pendidikan, kemauan, dan yang penting adalah sikap atau tindakan. Indonesia harus berani untuk mengurangi impor bahan-bahan yang sudah ada di Indonesia sendiri, misalnya beras. Bukankah kita negara agraris? Dengan mulai mencintai produk-produk kita, bukan tidak mungkin kalau Indonesia akan bangkit dalam lima tahun ke depan. Disamping berani mengurangi impor, diharapkan juga berani mengembangkan semua potensi di dalam negeri. Saya ambil contoh coklat. Indonesia mempunyai potensi perkebunan coklat yang cukup baik. Namun itu pun tak ada yang mau mengelolanya dengan alasan tak ada modal yang cukup untuk itu. Betapa kecilnya alasan itu untuk hasil yang sudah bisa kita tebak. Semua pasti berawal dari nol, tidak ada usaha yang langsung menjadi besar, tidak ada domba yang bisa langsung diambil bulunya. Semua pasti membutuhkan proses. Sekarang yang menentukan semua itu adalah bagaimana sikap dan tindakan kita untuk memanfaatkan semua sumber daya dengan minimal dan mendapatkan hasil yang maksimal. Semua tergantung pada kemauan dan kesadaran kita sebagai warga.
Apa saja yang harus direstorasi di Indonesia? Jawabnya adalah banyak. Yang pertama adalah hukum dan peraturan. Dengan peraturan, hidup menjadi disiplin. Namun tahukah anda bagaimana peraturan di Indonesia? Masyarakat menganggap bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar, bukan untuk ditaati. Dengan peraturan yang dibuat kita dipaksa untuk mengikutinya, dan itu adalah awal yang baik untuk membentuk karakter manusia. Dari situlah muncul karakter disiplin dan kesadaran yang tinggi di masyarakat. Setelah tertanam di dalam jiwa masyarakat, secara tidak langsung tanpa peraturan pun tidak akan menjadi masalah karena sudah tercipta kesadaran yang cukup tinggi. Dengan merestorasi peraturan dan hukum, otomatis akan merestorasi kepribadian masyarakat.
Selanjutnya adalah menggali potensi sumber daya dalam negeri tanpa harus merusaknya. Saya awali dengan keadaan Sumber Daya Hutan. Banyaknya illegal loging di Indonesia memperlihatkan betapa rapuhnya mental manusia Indonesia. Memang benar, hutan menjanjikan keuntungan financial yang cukup besar bagi negara dan masyarakat. Namun juga bisa menjanjikan kehancuran dan bencana jika tidak ada gerakan tanam setelah tebang. Contoh lain adalah perkebunan coklat yang belum dimanfaatkan secara optimal. Dan masih banyak lagi sumber daya Indonesia yang belum dimanfaatkan.
Mengapa masyarakat Indonesia seperti itu? Dengan kesadaran yang hanya mengerti uang dan jalan pintas lah yang membuat mereka seperti itu. Kemauan dan etos kerja yang sangat lemah selalu ditunjukkan ketika ada aksi mogok kerja. Saya akan me-review bagaimana keadaan masyarakat pada saat penjajahan. Pada zaman penjajahan Belanda, masyarakat yang bekerja sebagai buruh atau pegawai pabrik di bawah Belanda sebenarnya sudah memiliki bekal kemampuan yang cukup tinggi. Mereka sangan rajin dan patuh kepada majikan atau atasan. Karena jika tidak patuh, pasti akan mendapat siksa dari Belanda. Setelah merdeka, ternyata bukan hanya bangsa ini yang merdeka, namun semua sikap disiplin mereka juga merdeka. Para pegawai yang biasanya bekerja dengan penuh semangat dan disiplin tinggi merasa bebas dan semena-mena dengan tugasnya. Itu karena sudah tidak ada lagi yang menekan mereka dengan peraturan-peraturan Belanda. Begitulah gambaran masyarakat kita saat itu. Setelah Indonesia merdeka seutuhnya, sikap di atas sudah tidak lagi tersisa dalam benak kita.
Apakah seharusnya Indonesia kembali dijajah? Kita semua pasti menjawab tidak mau. Namun faktanya kita sudah terjajah saat ini. Dimana para asing mengeksplorasi sumber daya alam yang kita miliki secara besar-besaran. Itu semua karena kita hanya melihat uangnya saja tanpa berpikir bagaimana keadaan daerah itu setelah di eksplorasi. Setelah perjanjian ditanda tangani, tidak ada yang bisa kita lakukan selama kontrak masih berjalan.
Apakah anda sekalian tidak merasa miris melihat negara kita seperti ini? Jika jawaban anda semua adalah iya, maka mulai sekarang belajarlah untuk merubah semua sikap-sikap egois anda yang bisa membuat negara kita semakin mundur. Perubahan besar dimulai dari sebuah perubahan kecil, dan perubahan Indonesia dimulai dari perubahan masyarakat di dalamnya.
Kamis, 03 September 2009
Sabtu, 11 Juli 2009
" P E N Y A K I T "
Bicara tentang penyakit, sudah terlalu banyak penyakit yang menyerang Bangsa Indonesia. Mulai dari virus SARS, Polio, Flu Burung, sampai Flu Babi. Namun bukan penyakit itu yang saya maksudkan di sini, melainkan penyakit moral yang telah lama melanda rakyat kita. Salah satu penyakit moral adalah mencari kekurangan orang lain. Jika ditelusuri, inilah penyebab bangsa ini sangat lambat kemajuannya. Kenapa begitu? Iya, karena dengan kita mencari kekurangan orang lain, kita kehabisan waktu untuk mencari kekurangan diri sendiri. Karena kita tidak tahu kelemahan dan kekurangan kita, kita menjadi individu yang merasa paling hebat dan paling benar. Sikap itulah yang mendasari untuk menjadi apatis, masa bodoh dengan lingkungan sekitar dan keadaan bangsa. Tak ayal bangsa ini mengalami keterpurukan yang lama.
Sebenarnya dengan sedikit merubah dasar pikiran seorang manusia, kita mampu membuat Indonesia bangkit. Seperti yang sudah saya tulis di atas, kita harus merubah prilaku terhadap orang lain. Yaitu dengan mengganti pribadi yang dulu mencari kekurangan orang lain dengan mencari kekurangan diri sendiri. Dengan begitu tak ada waktu untuk mencari kekurangan orang lain karena pasti akan kita temukan banyak sekali kekurangan yang ada pada diri kita. setelah kita tahu betapa lemahnya kita, kita pasti akan merasa membutuhkan orang lain sebagai pelengkap dan penyempurna tugas-tugas kita. Dengan itu kita sudah dibekali dasar untuk bekerja sama dalam pekerjaan. Bekerja sama pasti menimbulkan kepercayaan da persatuan, modal utama yang bangsa butuhkan saat ini. Maka bukanlah suatu mimpi bahwa Indonesia akan bangkit dari keterpurukan, namun hal itu adalah sebuah impian yang suatu saat nanti pasti dicapai. Yakin saja akan ada suatu masa dimana Indonesia akan kembali menegakkan pemerintah yang adil hingga membuat rakyat menjadi makmur dan kembali bangun dari tidur panjangnya. Hidup INDONESIA
Sebenarnya dengan sedikit merubah dasar pikiran seorang manusia, kita mampu membuat Indonesia bangkit. Seperti yang sudah saya tulis di atas, kita harus merubah prilaku terhadap orang lain. Yaitu dengan mengganti pribadi yang dulu mencari kekurangan orang lain dengan mencari kekurangan diri sendiri. Dengan begitu tak ada waktu untuk mencari kekurangan orang lain karena pasti akan kita temukan banyak sekali kekurangan yang ada pada diri kita. setelah kita tahu betapa lemahnya kita, kita pasti akan merasa membutuhkan orang lain sebagai pelengkap dan penyempurna tugas-tugas kita. Dengan itu kita sudah dibekali dasar untuk bekerja sama dalam pekerjaan. Bekerja sama pasti menimbulkan kepercayaan da persatuan, modal utama yang bangsa butuhkan saat ini. Maka bukanlah suatu mimpi bahwa Indonesia akan bangkit dari keterpurukan, namun hal itu adalah sebuah impian yang suatu saat nanti pasti dicapai. Yakin saja akan ada suatu masa dimana Indonesia akan kembali menegakkan pemerintah yang adil hingga membuat rakyat menjadi makmur dan kembali bangun dari tidur panjangnya. Hidup INDONESIA
Pesta Rakyat 2009
Pemilu. Bisa dibilang hari rakyat yang hanya bisa dinikmati lima tahun sekali. Tempat menyalurkan inspirasi dan pilihan rakyat untuk pemimpin Indonesia ke depan. Untuk memilih seorang pemimpin bangsa, rakyat tidak boleh main-main dengan hak suaranya. Kalau dipikir-pikir masih terlalu banyak rakyat yang belum tahu sosok seorang pemimpin Indonesia yang bakal mereka pilih. Kebanyakan hanya mempunyai pilihan setelah diberi "iming-iming" oleh saudara atau tetangga terdekat mereka yang mungkin menjadi tim sukses para calon pemimpin. Sungguh rakyat sekarang mulai acuh dengan keadaan bangsanya. sebagai warga yang kritis, kita harus mengetahui program-program apa saja yang ditawarkan untuk Indonesia kita ke depannya. Jangan hanya melihat siapa yang paling kaya atau siapa yang banyak mengeluarkan dana pada saat kampanye adalah yang layak menjadi pemimpin Indonesia. Setelah mengetahui dan mempelajari seluk beluk kemampuan dan rencana kerjanya, kita baru bisa melihat dan menentukan yang mana pemimpin yang pantas menjadi seorang presiden.
Tak hanya itu, seorang pemilih harus bersikap sportif terhadap hasil yang nanti akan diperoleh. Tim sukses sudah seharusnya menunjukkan sikap baik dan sportif pertama kali pada saat penghitungan dan pengumuman hasil suara. Namun faktanya, para calon pemimpin bangsa malah yang pertama kali menunjukkan sikap yang egois dan membenarkan semua pendapatnya untuk mempertahankan kedudukannya. Sungguh sangat disayangkan. Calon pemimpin yang menganjurkan warga negaranya untuk sportif malah saling mengklaim pendapat-pendapat. Hal ini terjadi di setiap pemilihan, entah itu Pemilihan Kepala Dusun, yang paling rendah, hingga ke Pemilihan Presiden. Adu argumen selalu menghiasi dunia politik di saat rakyat haus akan pemimpin yang jujur dan adil. jika jeda waktu antara pemilihan dengan pengumuman hasil adalah satu bulan, maka satu bulan itu digunakan untuk mengklaim satu sama lain antar calon presiden. Jika sudah tiba waktu pengumuman hasil suara, pihak yang merasa kalah justru tidak menunjukkan sikap ramah yang "katanya" adalah ciri khas orang Indonesia. Bukankah calon pemimpin kita adalah orang Indonesia? Selalu ini yang terjadi setiap lim tahun sekali.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa rakyat Indonesia saat ini merupakan kumpulan orang yang putus asa terhadap pemimpin. Harapan demi harapan yang diberikan dan dipercayakan kepada pemimpin Indonesia nantinya masih belum terlihat jalan terangnya. Namun rakyat hanya bisa mengharap. Berharap suatu saat nanti akan ada pemimpin sebenarnya yang akan bisa membuat Indonesia menjadi lebih baik dan pasti akan kembali menjadi Macan Asia. Semuanya kembali kepada masyarakat itu sendiri. Satu pesan untuk Presiden Indonesia, tunjukkan pada rakyat bahwa anda memang mampu dan pantas menjadi seorang presiden, jangan mempermainkan rakyat jika tidak ingin dipermainkan rakyat, hargai pendapat, dan junjung tinggi sportivitas. Hidup INDONESIA
Tak hanya itu, seorang pemilih harus bersikap sportif terhadap hasil yang nanti akan diperoleh. Tim sukses sudah seharusnya menunjukkan sikap baik dan sportif pertama kali pada saat penghitungan dan pengumuman hasil suara. Namun faktanya, para calon pemimpin bangsa malah yang pertama kali menunjukkan sikap yang egois dan membenarkan semua pendapatnya untuk mempertahankan kedudukannya. Sungguh sangat disayangkan. Calon pemimpin yang menganjurkan warga negaranya untuk sportif malah saling mengklaim pendapat-pendapat. Hal ini terjadi di setiap pemilihan, entah itu Pemilihan Kepala Dusun, yang paling rendah, hingga ke Pemilihan Presiden. Adu argumen selalu menghiasi dunia politik di saat rakyat haus akan pemimpin yang jujur dan adil. jika jeda waktu antara pemilihan dengan pengumuman hasil adalah satu bulan, maka satu bulan itu digunakan untuk mengklaim satu sama lain antar calon presiden. Jika sudah tiba waktu pengumuman hasil suara, pihak yang merasa kalah justru tidak menunjukkan sikap ramah yang "katanya" adalah ciri khas orang Indonesia. Bukankah calon pemimpin kita adalah orang Indonesia? Selalu ini yang terjadi setiap lim tahun sekali.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa rakyat Indonesia saat ini merupakan kumpulan orang yang putus asa terhadap pemimpin. Harapan demi harapan yang diberikan dan dipercayakan kepada pemimpin Indonesia nantinya masih belum terlihat jalan terangnya. Namun rakyat hanya bisa mengharap. Berharap suatu saat nanti akan ada pemimpin sebenarnya yang akan bisa membuat Indonesia menjadi lebih baik dan pasti akan kembali menjadi Macan Asia. Semuanya kembali kepada masyarakat itu sendiri. Satu pesan untuk Presiden Indonesia, tunjukkan pada rakyat bahwa anda memang mampu dan pantas menjadi seorang presiden, jangan mempermainkan rakyat jika tidak ingin dipermainkan rakyat, hargai pendapat, dan junjung tinggi sportivitas. Hidup INDONESIA
Langganan:
Postingan (Atom)