Minggu, 27 Mei 2012
Kebiasaan negatif pengguna Blackberry
Jumat, 25 Mei 2012
Kasak kusuk Konser Lady Gaga di Indonesia (IMSO)
Selasa, 15 Mei 2012
Woman First !!
Rabu, 02 Mei 2012
Ramah? Tabu
Minggu, 04 Maret 2012
Tips Selamat Berkendara di Malam Hari
Rabu, 11 Januari 2012
Ratapan Ibu Periwi

Itulah sebuah lirik lagu berjudul Ibu Periwi yang sempat disampaikan oleh guru kita semasa berada di Taman Kanak-kanak. Sekilas lagu itu mengisahkan tentang hati seorang ibu yang gundah dan bersedih di tengah hartanya yang melimpah. Hal itu tersurat pada lirik lagu “hutan gunung sawah lautan, simpanan kekayaan…”. Simpanan yang begitu besar tentunya. Namun mengapa Sang Ibu Pertiwi bersedih? Mungkin lagu tersebut merupakan kegelisahan Sang Pencipta lagu terhadap keadaan bangsa Indonesia. Seakan bisa melihat masa depan, lagu yang ada sejak tahun 1950-an ini mengisahkan tentang Indonesia masa kini. Dalam bait pertama lagu ini saya analogikan Ibu Pertiwi adalah Indonesia. Seperti yang kita tahu, bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah ruah. Bahkan dalam lagu koes-plus digambarkan bahwa tongkatpun jadi tanaman di tanah Indonesia. Betapa suburnya tanah air negeri ini. Hutannya yang sangat indah dan terluas nomor 2 di dunia menyimpan keanekaragaman hewan dan tumbuhan yang sangat besar, hingga dikenal sebagai negara mega-biodiversity. Rempah-rempah jugalah yang menggiring pasukan Belanda untuk menginjakkan kaki di Indonesia. Puluhan gunung berapi yang aktif membuat tanah di nusantara ini menjadi sangat subur. Sempat tanah air Indonesia menjadi macan asia karena mampu swasembada beras pada era orde baru (Alm. Presiden Soeharto), juga dengan gelarnya sebagai negara agraris.
Namun mengapa Ibu Pertiwi digambarkan bermuram hati pada bait lagu tersebut? Apa yang menjadi pikirannya, padahal semuanya sudah dimiliki. Mulai sumberdaya darat dan laut. Kondisi saat inilah yang menjadi jawabannya. Indonesia merdeka sejak tahun 1945, 67 tahun sudah umur bangsa ini. Dengan kekayaan alam yang sangat melimpah. Modalnya sudah cukup untuk menjadi bangsa yang besar. Namun keterpurukanlah sekarang yang dirasakan Indonesia. Sungguh sangat haru ketika saya mendengar lagu Ibu Pertiwi terdengar di telinga saya. Sumber daya manusianya lah yang kini sangat melemah. Rasa cintanya terhadap tanah air sudah tidak lagi dirasakan oleh para generasi muda khususnya. Pelajar-pelajar kini memiliki hobi tawuran, tindakan anarki, dan sangat bersahabat dengan Narkoba. Para tetua yang duduk di atas pun memberi contoh tentang bagaimana melakukan korupsi dengan baik dan benar. Masyarakat Indonesia kini menjadi sangat rapuh dalam kesehariannya. Setiap waktu digunakan untuk mencari kesalahan bangsa sendiri. Hingga negara tetangga pun dengan mudahnya mengambil alih pulau-pulau terluar Indonesia dan budaya-budaya Indonesia. Sungguh sebuah kemunduran yang sangat drastic.
Wahai Ibu, maafkanlah anak-anakmu ini. Kami bukan tidak berbakti kepada Engkau. Kami sedang berusaha wahai Ibu, untuk membuat dirimu kembali bangga memiliki anak-anak seperti kami. Kami sangat membutuhkan doa dan semangat darimu ibu. Junjunglah kembali kami menuju senyummu yang dulu engkau berikan padaku.
Jumat, 09 Desember 2011
Hutan ? Penting gak sih?

Senin, 05 Desember 2011
Tentang Sebuah Tanggung Jawab

Selasa, 15 November 2011
Bahagia dengan membuang sampah (pada tempatnya)

Apa yang sebenarnya dicari oleh manusia di dunia ini? Kebahagiaan pastinya. Rasa bahagia akan muncul ketika tidak adanya lagi rasa takut akan sesuatu. Berarti warga Jakarta tidak bahagia dong…. sepertinya iya. Karena setiap tahun masyarakat Jakarta merasa was-was karena menunggu air Ciliwung yang menjadi langganan tahunan untuk bertamu ke rumah mereka. Banjir. Namun sepertinya mereka tidak pernah belajar. Mereka menganggap kalau banjir itu kiriman dari Bogor. Padahal kalau dipikir-pikir banjir yang melanda kawasan ibukota itu merupakan pesanan warga Jakarta. Kok gitu? Seharusnya kawasan Bogor (Puncak) itu menjadi kawasan hutan yang menjaga debit air yang menuju sungai. Namun jika dilihat sekarang ini, bukan pohon-pohon yang bertambah, tapi tembok-tembok beton yang semakin bertambah untuk vila mewah, “punya orang kaya Jakarta” jawab seseorang yang sempat saya tanya tentang kepemilikan sebuah vila di sana. Setiap weekend bisa dipastikan jalan menuju puncak, padat sampai macet dan kebanyakan kendaraan ber-plat nomor B. Sungguh miris ketika melihat hal ini terjadi, ada ancaman yang selalu mengintai mereka, namun tidak ada antisipasi menuju kesana ketika ancaman itu belum datang.
Selain menyempitnya kawasan resapan air berupa hijauan, juga kesadaran masyarakat akan sampah juga sangat minim. Untuk apa pemerintah mengeluarkan biaya untuk membuat tong-tong sampah di pinggir jalan jika masyarakat memilih untuk membuang sampahnya di sungai-sungai sekitar? Bukan pemerintah lagi yang disalahkan, namun dimana kesadaran masyarakat itu sendiri untuk membuang sampah pada tempatnya??? Padahal anak TK pun tahu kalau membuang sampah di sungai bisa mengakibatkan banjir. Apa pendidikan mereka?? Sekarang sudah semakin jelas banjir yang terjadi bukan hanya di wilayah ibukota, Bandung pun sudah mulai menjadi sarang banjir. Ujung-ujungnya menyalahkan pemerintah pas banjir sudah datang. Katanya pemerintah kurang tanggap, pemerintah gagal, dan macam-macam lah kambing hitamnya. Kemana sih pikiran mereka?? Yang dicari uang uang dan uang. Sekarang bisa dilihat saluran-saluran air yang selalu macet ketika dialiri air.
Tentunya masih ada harapan untuk memperbaiki kerusakan lingkungan di sekitar kita. Kalaupun pekarangan kita sudah tidak bertanah lagi karena paving, yah minimal buang sampah di tempatnya lah. Jangan berpikir “halah sampah kecil saja kok, sebentar juga ilang ikut arus..”, kalau Cuma anda yang berpikir seperti itu, it’s OK. Tapi kalau 1 juta penduduk Indonesia berpikiran sama seperti anda, apa yang terjadi? Ya seperti sekarang ini lah. Mulai dari diri sendiri untuk memberi contoh kepada orang lain. Toh hasilnya juga kita sendiri yang menikmati. Keep fight
Senin, 27 Desember 2010
Pendapatan seorang tukang parkir = Gaji Guru SD

